Hukum Zakat Untuk Anak Yatim

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Apakah wajib bayar zakat fitrah bila meninggal dunia pada bulan Ramadhan?
Apakah seorang cucu yang yatim piatu (tidak punya Bapak / Ibu) yang mampu menerima zakat, padahal ia diasuh oleh kakek dan neneknya yang mampu?

Dari Mei RInda di Surabaya

Jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pertama: Seseorang yang meninggal di bulan puasa tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah. Seseorang baru berkewajiban zakat fitrah ketika matahari tenggelam di akhir ramadhan (memasuki tanggal 1 syawwal), demikian pendapat jumhur ulama. Sementara ulama hanafiah berpendapat waktu wajib ketika terbit fajar tanggal 1 syawwal. Hanya saja, untuk waktu mengeluarkannya, sebagian besar ulama ulama membolehkan mengeluarkan zakat fitrah sebelum tiba waktu wajibnya.

Kedua: apabila maksud dari pertanyaan di atas apakah anak yatim itu boleh menerima zakat dari orang lain, maka jawabannya adalah: statusnya sebagai anak yatim tidaklah mesti menjadikan dirinya sebagai orang yang berhak menerima zakat. Seorang anak yatim yang kebutuhan hidupnya telah tercukupi dan terpenuhi tidak berhak menerima zakat. Sebab, ketika kebutuhannya telah terpenuhi berarti ia tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang berhak menerima zakat.

Adapun bila kebutuhan dasar anak yatim itu belum terpenuhi atau tidak ada orang yang menanggung hidupnya secara penuh serta tidak memiliki harta, maka anak yatim itu berhak menerima zakat. Ia berhak menerima zakat bukan karena statusnya sebagai yatim, tetapi karena ketidak mampuannya untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. Dengan begitu, ia termasuk kategori fakir atau miskin. Jadi, ia boleh menerima zakat karena ketidakmapuan dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

Dalam Islam, kedudukan kakek menggantikan kedudukan ayah ketika ayah tiada. Maka, ketika anak yatim diasuh kakeknya yang mampu maka anak yatim itu termasuk dalam kategori mampu atau kebutuhan dasarnya telah tercukupi. Dengan begitu, ia tidak berhak menerima zakat. Ketika anak yatim tidak berhak menerima zakat, bukan berarti kita membiarkannya begitu saja. Kita bisa memberikan sedekah, santunan dan kasih sayang kepada yatim tersebut.

Ketiga: apabila yang dimaksud dengan pertanyaan kedua itu apakah anak yatim boleh menerima zakat dari kakek yang merawatnya, maka jawabannya adalah: sebagian besar ulama tidak membolehkan seseorang memberikan zakat kepada anak ke bawah (cucu hingga cicit). Begitu pula seseorang tidak diperbolehkan memberikan zakat kepada orang tua ke atas (kakek/ nenek ke atas). Sedangkan untuk saudara selain itu, sebagian besar ulama membolehkan.

Cucu yang yatim menjadi tanggungan kakek dan neneknya. Sehingga, seorang kakek tidak boleh memberikan zakat kepada mereka. Kakek dan nenek itu berkewajiban menafkahi cucunya yang yatim. Jadi bila ia memberikan zakatnya kepada mereka sama artinya tidak berzakat.

 

 

 

Advertisements

Pengertian Zakat

A. Arti Zakat
Menurut bahasa, kata “zakat” berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah. Dalam Al-Quran dan hadis disebutkan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. al-Baqarah[2]: 276); “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah[9]: 103); “Sedekah tidak akan mengurangi harta” (HR. Tirmizi).

Menurut istilah, dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu.
Adapun kata infak dan sedekah, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa infak adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata sedekah adalah segala bentuk pembelanjaan (infak) di jalan Allah. Berbeda dengan zakat, sedekah tidak dibatasi atau tidak terikat dan tidak memiliki batasan-batasan tertentu. Sedekah, selain bisa dalam bentuk harta, dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran, dan bahkan sekadar senyuman.

B. Penyebutan Zakat dalam Al-Quran
a. Zakat (QS. al-Baqarah[2]: 43).
b. Sedekah (QS. at-Taubah[9]: 104).
c. Hak (QS. al-An’âm[6]: 141).
d. Nafkah (QS. at-Taubah[9]: 34).
e. Al-‘Afwu (maaf) (QS. al-A’râf[7]: 199).

C. Hukum Zakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi penegakan syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
Allah swt berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ke-taatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. al-Bayyinah[98]: 5).
Rasulullah saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; mendirikan salat; melaksanakan puasa (di bulan Ramadan); menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah (bagi yang mampu)” (HR. Muslim).

D. Zakat adalah Ibadah
Zakat termasuk dalam kategori ibadah wajib (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur berdasarkan Al-Quran dan sunah. Selain itu, zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia.

E. Macam-macam Zakat
a. Zakat nafs (jiwa), disebut juga zakat fitrah.
b. Zakat mâl (harta).

F. Syarat-syarat Wajib Zakat
a. Muslim.
b. Berakal.
c. Balig.
d. Memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab.

 

 

 

Hukum Membayar Zakat Dengan Uang

Assalamu’alaikumwarahmatullahwabarakatuh
Bolehkan membayar zakat fitrah atau zakat yang lain dengan menggunakan uang? Apakah harus memberikan zakat fitrah kepada orang yang berhak dalam bentuk makanan pokok?
Muhammad S di Jakarta

jawab:
Wa’alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh
Saudara Muhammad S yang dirahmati Allah swt. Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan pokok.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar ra, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau saw memerintahkannya dilakasanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari Muslim).

Lantas, apakah boleh seseorang mengeluarkan zakat fitrah atau zakat yang lainnya dengan uang? Para ulama berbeda pendapat terkait masalah ini. Pendapat pertama: boleh membayar zakat fitrah dan yang lainnya dengan menggunakan qimah (mata uang). Pendapat kedua: tidak boleh membayar zakat dengan qimah (mata uang). Ketiga: diperbolehkan membayar zakat dengan qimah bila ada kemaslahatan.

Pendapat pertama adalah pendapat ulama hanafiah. Pendapat kedua adalah pendapat ulama syafi’iah dan ulama hanabilah. Sedangkan pendapat ketiga adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan salah satu riwayat Imam Ahmad (majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah: Jilid 25/82).

Menurut hemat kami, kemaslahatan membayar zakat dalam bentuk uang pada saat ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Kebutuhan mustahik sangat beragam. Tidak hanya sebatas bahan makanan pokok. Bahkan, kadang kala memberikannya dengan bahan pokok justru merugikan penerima zakat. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan yang lain, ia harus menjual lagi harta zakat yang ia terima dengan harga di bawah standar.

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi memberikan suatu argument yang cukup kuat alasan Rasulullah saw, pada waktu itu, memerintahkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok. Kala itu, tidak semua orang memiliki dinar atau dirham. Akses mereka terhadap bahan pokok lebih mudah. Dengan begitu, apabila beliau saw memerintahkan zakat dalam bentuk uang tentu akan membebani umat muslim. Maka, beliau saw memerintahkan zakat dalam bentuk bahan makanan pokok. Berbeda halnya saat ini, situasi telah berubah. Seseorang lebih mudah mendapatkan uang daripada bahan makanan pokok. Dengan demikian, memberikan zakat dalam bentuk uang memang benar-benar memberikan maslahat.
Wallahu a’lam.